Angin yang berhembus malam itu lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Karga belum beranjak juga dari tempatnya duduk. Ditatapnya purnama yang sedari tadi membiusnya. Dongeng lama yang selalu didengarnya sejak kecil muncul dibenaknya, membangun kembali potongan-potongan kisah di benaknya. Perasaaan kasihannya timbul lagi pada pasangan tokoh dongeng yang tak beruntung itu.
“Ah, putri…, “gumamnya tanpa ia sadari. Dari dulu ia merasa lebih tertarik dan kasihan pada tokoh sang putri melebihi siapapun dalam cerita itu.
Ia kembali menatap purnama. Sangat terang. Bulatannya lebih besar dari biasanya. Tentu saja. Ini adalah supermoon. Bulan berada di jarak terdekatnya dengan bumi. Membuatnya tampak lebih besar dari purnama-purnama lainnya. Kata-kata “berada di jarak terdekatnya” menggelisahkan hatinya. Entah kenapa. Ditatapnya bulan sekali lagi, dan setetes air mata jatuh di pipinya tanpa disadarinya.
“Aaauuuuuuu….” suara yang dibuat menyerupai lolongan mengagetkannya diiringi tawa renyah setelahnya. Adhira muncul dari belakang,
“Sumpah…kukira kamu bakal melolong tadi…hahaha…dari caramu melihat bulan.”
Karga tersenyum tipis, buru-buru mengusap pipinya.
“Masuk yuk…dicariin tuh sama anak-anak. Waktunya makan… tuh junior-juniormu tidak akan makan sebelum seniornya makan…,” ajaknya.
Karga menghela napas. Sebenarnya dia masih mau di sini. Sendirian. Tanpa perempun yang sekarang berdiri di depannya dan tidak berhenti mengajaknya masuk ke pondok. Terkadang dia merasa bersalah pada Adhira. Perempuan itu terlalu terang-terangan menunjukkan perhatiannya. Dan dia sepertinya terlalu terang-terangan menunjukkan penolakannya. Tapi itu tidak mengubah sikap Adhira terhadapnya. Masih sama.
Dia kembali menengadah. Awan bergerak menutupi bulan. Hatinya kembali gelisah.
“Ayolah…kasian anak-anak…. Bulannya tidak akan kemana-mana koq,” katanya lagi. Karga akhirnya membiarkan tubuhnya bergerak mengikuti arah tarikan Adhira di lengannya.
Mereka berdua melangkah masuk ke pondok yang disambut riuh mahasiswa-mahasiswa tingkat satu yang kelaparan. Sebuah rumah kayu yang menjadi tempat singgah bagi pendaki-pendaki yang melewati jalan menuju puncak gunung Coppoe.
Ini adalah tahun ketiganya menjadi asisten dosen di lapangan. Asisten lapangan istilahnya. Kali ini mereka akan memetakan titik-titik sumber air yang ada di sekitar pegunungan ini. Sebuah tugas yang telah dilakoninya setahun sekali selama tiga tahun.
Tempat ini sudah tidak asing lagi baginya. Bahkan ia sering kemari meski tanpa tugas. Purnama tampak sangat indah dari tempat ini tanpa dihalangi bangunan. berbeda ketika ia berada di tempat kostnya atau di rumahnya. Warga yang berada di sekitar kaki gunung sudah mengenalinya. Ia, seorang dari kota yang datang ke tempat ini untuk melihat purnama. Begitulah dia disebut oleh para warga karena ia selalu ke tempat ini menjelang purnama. Karga senang-senang saja dijuluki seperti itu. Julukannya itu jauh lebih mendingan dari pada julukan-julukan yang sering dilontarkan padanya saat masih kecil karena kegemarannya mengamati bulan.
Bulan kini berada di atas kepala. Sangat terang. Sebongkah awan yang tadinya menutupi sang bulan telah tertiup angin, terpecah pecah dan berhamburan tak beraturan di sekitar bulan.
Karga duduk di bangku kayu di tengah halaman yang disiapkan untuknya sementara para mahasiswa sibuk menumpuk kayu-kayu kering untuk membuat api unggun. Beberapa mulai duduk rapi di alas karpet plastik di depannya dengan buku catatan kecil serta pulpen. Siap mendengarkan penjelasannya. Beberapa masih berdiam di tenda-tendanya yang berbaris rapi di lapangan depan rumah pondok.
Setelah semua berkumpul, Karga mulai menjelaskan prosedur yang akan dilakukan besok hari dilapangan, titik-titik rawan yang harus diperhatikan dan standar-standar yang harus ditaati oleh para mahasiswa. Semua mendengarkan dengan seksama.
Seseorang dari depan pondok ikut menyimak. Tapi sepertinya dia lebih tertarik pada orangnya daripada penjelasannya. Matanya bergerak-gerak mengikuti gerakan Karga sambil menahan senyumnya. Dia Adhira. Sebagai asisten lapangan tugasnya kurang lebih sama dengan Karga. Tapi dalam pelaksanaannya di lapangan,
Karga mengambil alih hampir semuanya. Dan dia sangat mensyukuri hal tersebut. Karena dia perempuan, ia hanya membantu di bagian administrasi dan pencatatan, dan mengkoordinir bagian konsumsi. Tidak terbayang jika dia harus melakukan semua tugas yang lebih cocok untuk laki-laki.
Dia bertahan dengan posisinya sebagai asisten lapangan hanya demi skripsinya lancar dan tentu saja karena dia mengikuti seseorang.
Dalam sesi istirahat, mahasiswa berpencar mencari teman se-timnya. Lalu mulai berdiskusi. Karga tertawa kecil melihat seorang mahasiswa mengguncang-guncang ponselnya, mencari sinyal.
Di daerah ini, sinyal mulai sulit terlacak. Makanya pihak asisten telah menyiapkan satu HT bagi setiap kelompok untuk berkomunikasi dan setiap kelompok didampingi satu asisten lapangan.
Malam makin larut. Bulan kembali tertutup awan. Langit tampak lebih suram. Karga memukul-mukul gelasnya dengan sendok meminta para mahasiswa berkumpul. Tidak sampai lima menit, mereka membentuk lingkaran di sekitar api unggun.
Karga melihat sekilas jam di pergelangan tengannya. Masih bukan waktunya untuk tidur.
“Okey… ada yang mau ngasi hiburan gak? Nyanyi kek..apa kek…mendongeng juga boleh…,” katanya memecah kesunyian.
Seorang berdiri lalu melangkah ke tengah-tengah membawa gitarnya.
Tak lama kemudian terdengar melodi dari intro sebuah lagu riang. Semua ikut bernyanyi sambil bertepuk tangan.
Setelah lagu habis dan si penyanyi kembali ke tempatnya, suasana kembali sunyi. Karena tidak ada yang maju lagi, Karga memutuskan permainan sendok estafet. Sendok digilir, dipegang bergantian sambil menyanyikan lagu anak “balonku ada lima”. Siapapun yang memegang sendok ketika lagu berakhir, ia yang maju ke depan untuk menampilkan sesuatu.
Semua bernyanyi sambil mengoper sendok dari Karga bergiliran. Sendok dioper terburu-buru tidak mengikuti ritme lagu lagi karena khawatir sendok berakhir di tangan mereka. Hingga di kata lagu terakhir, sendok tiba di tangan seseorang di tengah barisan belakang.
“Ya…?” Karga menunjuk ke arahnya. Dia terlihat enggan tapi kemudian berdiri setelah didesak teman setimnya. Perempuan.
“Kalau bagi cerita, boleh nggak, kak?”
“Boleh…horror dikit juga nggak pa-pa.” Karga menyimpul senyumnya. Yang lain, terutama perempuannya, bergidik tidak suka.
“Mmm…ini sebenarnya dongeng lama.” Dia memulai ceritanya.
Semua mulai tertarik dan fokus pada suara perempuan yang sudah berdiri di tengah-tengah itu. Entah karena suara perempuan itu enak didengar seperti suara penyiar yang sedang siaran malam sehingga membius mereka yang mendengarnya ataukah ceritanya yang memang belum pernah terdengar sebelumnya.
Karga tercengang di tempat duduknya. Disangkanya, dongeng itu hanya miliknya.
---
***
SEGELAS PAHIT RASA COKELAT
Pahitnya diramu dari segelas air hangat dicampur bubuk kenyataan, tanpa susu, tanpa gula.
SUPERMOON
Subscribe to:
Comments (Atom)
SUPERMOON
Angin yang berhembus malam itu lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Karga belum beranjak juga dari tempatnya duduk. Ditatapnya purnama...
-
Assalamu alaikum, Salam kenal buat pengunjung blog ini. Terima kasih sudah berkunjung.
-
PURNAMA Di sebuah kerajaan besar di langit, Kerajaan Matahari, seorang raja berkuasa. Raja Matahari. Sang raja memiliki seorang putri y...
-
Angin yang berhembus malam itu lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Karga belum beranjak juga dari tempatnya duduk. Ditatapnya purnama...